SELAMAT DATANG DI BLOG NAGARI "BATU PALANO" ......
 - Imbauan Bagi Anak Nagari Untuk Berpartisipasi Dalam Blog Ini
     Web ini adalah milik kita smua..milik anak nagari Batu Palano yang berfungsi sebagai wadah/sarana untuk bersilaturahmi antara satu dengan yang lainnya
     Kami mengimbau kepada seluruh sanak saudaro dimana pun berada untuk dapat berpartisipasi dalam web ini untuk mengirimkan artikel2 yang berguna bagi kita semua dan juga informasi2 bagi sanak saudara kita yang mkn membutuhkannya baik kabar sukacita maupun duka cita atau hal2 lainnya..
    Semua yang akan dikirimkan pasti akan kami post kan , alamat post dapat di e-maikan ke: syafrizal89@yahoo.com. Saran dan sumbangan fikiran dari sanak saudara kami harapkan untuk kemajuan kita bersama....

Sunday, April 26, 2009

- MASUKNYA ISLAM DI MINANGKABAU

 Secara historis, Islam masuk ke Minangkabau pada abad ke-12 M, ada yang menyebutnya abad ke-14 M. Almanak Tiongkok menyebutkan bahwa sudah didapatinya satu kelompok masyarakat Arab di Sumatera bahagian barat pada tahun 674 M, maka dengan demikian Islam telah masuk ke daerah ini sejak tahun 674 Masehi atau abad pertama hijriah.

Naiknya kerajaan Islam Pasai di Aceh dibawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda tahun 1607-1638 M. membawa akibat dikuasainya kerajaan kecil Minangkabau. Perkembangan Islam di Aceh, khususnya paham tasawuf melalui 'Abd al-Rauf al-Sinkili ikut mewarnai pemikiran keagamaan di Minangkabau sejak masa awal. Pengaruh al-Sinkili dalam pengembangan Islam ke Minangkabau diteruskan oleh Burhan al-Din. Syekh Burhan al-Din Ulakan memainkan peran sebagai pengembang Islam melalui tarekat Syathariyah di Minangkabau. Sehingga surau Ulakan cukup termasyhur sebagai satu-satunya pusat keilmuan Islam di Minangkabau.

Pengertian Tarekat
Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amud al-mizalah). Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga system, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahan pertolongan dari guru. Kepatuhan murid kepada guru dalam tarekat digambarkan murid dihadapan guru laksana mayat di tangan orang yang memandikannya. 

Adat Minangkabau
Adat sebagai identitas masyarakat Minangkabau telah menjadi rujukan bagi setiap tingkah laku masyarakatnya. Setiap aktivitas, prakarsa (inisiatif) dan kreatifitas selalu dinilai berdasarkan adat tersebut. Namun demikian, adat Minangkabau te1ah mengalami fase-fase perkembangan sendiri berkenaan dengan perjumpaannya dengan nilai-nilai luar. Pertama adalah fase animisme dan dinamisme. Fase ini berlangsung sebelum abad V M. Kedua adalah fase pengaruh Hindu-Budha, mulai abad VI Masehi sampai abad VII Masehi. Ketiga adalah fase Islam. Adapun raja Minangkabau pertama yang beragama Islam adalah Sultan Alif yang berkuasa pada pertengahan abad ke-16 (1560 M). Pada masa ini, terutama di seputar pesisir, dominasi politik dan ekonomi dikuasai oleh kerajaan Aceh.

Ketika Islam menjadi anutan orang Minangkabau maka tidak sedikit adat Minangkabau yang dipengaruhi oleh animisme dan dinamisme serta Hindu dan Budha, mendapatkan kritikan dan gugatan dari ajaran Islam. Setelah itu, melalui pergulatan yang terakhir justru Islamlah yang sampai sekarang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat, termasuk memberi corak tehadap adat Minangkabau. Perpaduan antara adat dan Islam itu dibuktikan melalui sistim dan struktur adat Minangkabau yang dibuhul dengan pepatah "Adat basandi syara’, Syara’ basandi Kitabullah.”

Tarekat Syathariyah
Tarekat Syathariyah pertama kali digagas oleh Abdullah Syathar (w.1429 M). Tarekat Syaththariyah berkembang luas ke Tanah Suci (Mekah dan Medinah) dibawa oleh Syekh Ahmad Al-Qusyasi (w.1661/1082) dan Syekh Ibrahim al-Kurani (w.1689/1101). Dan dua ulama ini diteruskan oleh Syekh 'Abd al-Rauf al-Sinkili ke nusantara, kemudian dikembangkan oleh muridnya Syekh Burhan al-Din ke Minangkabau.

Tarekat Syathariyah sesudah Syekh Burhan al-Din berkembang pada 4 (empat) kelompok, yaitu; Pertama. Silsilah yang diterima dari Imam Maulana. Kedua, Silsilah yang dibuat oleh Tuan Kuning Syahril Lutan Tanjung Medan Ulakan. Ketiga, Silsilah yang diterima oleh Tuanku Ali Bakri di Sikabu Ulakan. Keempat; Silsilah oleh Tuanku Kuning Zubir yang ditulis dalam Kitabnya yang berjudul Syifa' aI-Qulub.

Berdasarkan silsilah seperti tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tarekat Syaththariyah di Minangkabau masih terpelihara kokoh. Untuk mendukung ke1embagaan tarekat, kaum Syathariyah membuat lembaga formal berupa organisasi sosial keagamaan Jamaah Syathariyah Sumatera Barat, dengan cabang dan ranting-ranting di seluruh alam Minangkabau, bahkan di propinsi - tetangga Riau dan jambi. Bukti kuat dan kokohnya kelembagaan tarekat Syaththariyah dapat ditemukan wujudnya pada kegiatan bersafar ke makam Syekh Burhan al-Din Ulakan.

Adapaun ajaran tarekat Syaththariyah yang berkembang di Minangkabau sama seperti yang dikembangkan oleh 'Abd al-Rauf al-Sinkili. Masalah pokoknya dapat dikelompokkan pada tiga;

Bahagian Pertama, Ketuhanan dan hubungannya dengan alam. Paham ketuhanan dalam hubungannya dengan alam ini seolah-olah hampir sama dengan paham Wahdat a1- Wujud, dengan pengertian bahwa Tuhan dan alam adalah satu kesatuan atau Tuhan itu immanen dengan alam, bedanya oleh al-Sinkili ini dijelaskannya dengan menekankan pada trancendennya Tuhan dengan alam. la mengungkapkan wujud yang hakiki hanya Allah, sedangkan alam ciptaan-Nya bukan wujud yang hakiki. Bagaimana hubungan Tuhan dengan alam dalam transendennya, al-Sinkili menjelaskan bahwa sebelum Tuhan menciptakan alam raya (al- 'a/am), Dia selalu memikirkan (berta'akul) tentang diri-Nya, yang kemudian mengakibatkan terciptanya Nur Muhammad (cahaya Muhammad). Dari Nur Muhammad itu Tuhan menciptakan pola-pola dasar (a/ 'ayan tsabitah), yaitu potensi dari semua alam raya, yang menjadi sumber dari pola dasar luar (a/-‘ayan alkharijiyah) yaitu ciptaan dalam bentuk konkritnya.
Ajaran tentang ketuhanan al-Sinkili di atas, disadur dan dikembangkan oleh Syekh Burhan al-Din Ulakan seperti yang terdapat dalam kitab Tahqiq. Kajian mengenai ketuhanan yang dimuat dalam kitab Tahqiq dapat disimpulkan pada Iman dan Tauhid. Tauhid dalam pengertian Tauhid syari'at, Tauhid tarekat, dan Tauhid hakekat, yaitu tingkatan penghayatan tauhid yang tinggi.
Bahagian kedua, Insan Kamil atau manusia ideal. Insan kamil lebih mengacu kepada hakikat manusia dan hubungannya dengan penciptanya (Tuhannya). Manusia adalah penampakan cinta Tuhan yang azali kepada esensi-Nya, yang sebenarnya manusia adalah esensi dari esensi-Nya yang tak mungkin disifatkan itu. Oleh karenanya, Adam diciptakan Tuhan dalam bentuk rupa-Nya, mencerminkan segala sifat dan nama-nama-Nya, sehingga "Ia adalah Dia." Manusia adalah kutub yang diedari oleh seluruh alam wujud ini sampat akhirnya. Pada setiap zaman ini ia mempunyai nama yang sesuai dengan pakaiannya. Manusia yang merupakan perwujudannya pada zaman itu, itulah yang lahir dalam rupa-rupa para Nabi--dari Nabi Adam as sampat Nabi Muhammad SAW-- dan para qutub (wali tertinggi pada satu zaman) yang datang sesudah mereka.
Hubungan wujud Tuhan dengan insan kamil bagaikan cermin dengan bayangannya. Pembahasan tentang Insan KamiI ini meliputi tiga masalah pokok: Pertama; Masalah Hati. Kedua Kejadian manusia yang dikenal dengan a’yan kharijiyyah dan a’yan tsabitah. Ketiga; Akhlak, Takhalli, tahalli dan Tajalli.
Bahagian ketiga, jalan kepada Tuhan (Tarekat). Dalam hal ini Tarekat Syaththariyah menekankan pada rekonsiliasi syari'at dan tasawuf, yaitu memadukan tauhid dan zikir. Tauhid itu memiliki empat martabat, yaitu tauhid uluhiyah, tauhid sifat, tauhid zat dan tauhid af'al. Segala martabat itu terhimpun dalam kalimah 1a ilaha ilIa Allah. Oleh karena itu kita hendaklah memesrakan diri dengan La ilaha illa Allah. Begitu juga halnya dengan zikir yang tentunya diperlukan sebagai jalan untuk menemukan pencerahan intuitif (kasyf) guna bertemu dengan Tuhan. Zikir itu dimaksudkan untuk mendapatkan al-mawat al-ikhtiyari (kematian sukarela) atau disebut juga al-mawat al-ma'nawi (kematian ideasional) yang merupakan lawan dari al mawat al-tabi’i (kematian alamiah). Namun tentunya perlu diberikan catatan bahwa ma’rifat yang diperoleh seseorang tidaklah boleh menafikan jalan syari’at.

Tarekat Naqsyabandiyah 
Menurut BJO Schrieke dan Martin Van Bruinessen, Naqsyabandiyah masuk ke Nusantara dan Minangkabau pada tahun 1850. Christine Dobbin menyebutkan tarekat Naqsyabandiyah sudah masuk ke Minangkabau sejak abad ke 17, pintu masuknya me1alui daerah Pesisir Pariaman, kemudian terus ke Agam dan Lima Puluh kota. Azyumardi Azra menulis bahwa tarekat Naqsyabandiyah diperkenalkan ke wilayah ini pada paruh pertama abad ketujuh belas oleh Jamal al-Din, seorang Minangkabau yang mula-mula belajar di Pasai sebelum dia melanjukan ke Bayt al-Faqih, Aden, Haramain, Mesir dan India.

Kepopuleran Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Minangkabau diperkuat oleh ulama Minangkabau yang menuntut ilmu di Mekah dan Medinah lalu mereka kemudian mendapat bai'ah dari Syekh Jabal Qubays di Mekah dan Syekh Muhammad Ridwan di Medinah. Misalnya, Syekh Abdurrahman di Batu Hampar Payakumbuh (w. 1899 M), Syekh Ibrahim Kumpulan Lubuk Sikaping, Syekh Khatib Ali Padang (w. 1936), Syekh Muhammad Sai'd Bonjol.

Ajaran dasar Tarekat Naqsyabandiyah pada umumnya mengacu kepada empat aspek pokok yaitu: syari'at, thariqat, hakikat dan ma'rifat. Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah ini pada prinsipnya adalah cara-cara atau jalan yang harus dilakukan oleh seseorang yang ingin merasakan nikmatnya dekat dengan Allah. Ajaran yang nampak kepermukaan dan memiliki tata aturan adalah suluk atau khalwat. Suluk ialah mengasingkan diri dari keramaian atau ke tempat yang terpencil, guna melakukan zikir di bawah bimbingan seorang syekh atau khalifahnya selama waktu 10 hari atau 20 hari dan sempurnanya adalah 40 hari. Tata cara bersuluk ditentukan oleh syekh antara lain; tidak boleh makan daging, ini berlaku setelah melewati masa suluk 20 hari. Begitu juga dilarang bergaul dengan suami atau istri; makan dan minumnya diatur sedemikian rupa, kalau mungkin sesedikit mungkin. Waktu dan semua pikirannya sepenuhnya diarahkan untuk berpikir yang telah ditentukan oleh syekh atau khalifah.

Sebelum suluk ada beberapa tahapan yaitu; Talqin dzikir atau bai'at dzikir, tawajjuh, rabithah, tawassul dan dzikir. Talqin dzikir atau bai'at dzikir dimulai dengan mandi taubat, bertawajjuh dan melakukan rabithah dan tawassul yaitu melakukan kontak (hubungan) dengan guru dengan cara membayangkan wajah guru yang mentalqin (mengajari dzikir) ketika akan memulai dzikir.

Dzikit ada 5 tingkatan, murid belum boleh pindah tingkat tanpa ada izin dari guru. Kelima tingkat itu adalah (a) dzikir ism al-dzat, (b) dzikr al-lata’if, (c) dzikir naïf wa isbat, (d) dzikir wuquf dan ( e) dzikir muraqabah.
sumber sufinews


Baca Selengkapnya......

Wednesday, March 11, 2009

- ASAL USUL STRESS

  Dari mana sesungguhnya asal usul stres? Para psikolog dan agamawan mencari solusi. Dan jutaan judul buku memasuki era industrinya hanya karena stres publik. Situasi demikian dimanfaatkan scbagai komoditi. Ada komoditas intelektual, ada juga komoditas obat-obatan, ada komoditas paranormal, dan juga ada komoditas instan untuk menanggulangi stres.

  Alhasil,
para sufi ikut unjuk gigi. Stres menurut para sufi disebabkan oleh nuansa paling sederhana. Yaitu; "Urusan duniawi masuk dalam wilayah Ketuhanan. Atau urusan hidup sehari-hari dimasukkan dalam hati kita. Maka hati jadi tertekan dan benturan psikologis menimbulkan konflik dalam diri sendiri."

  Anda mungkin bertanya, bisakah urusan dunia ini tidak masuk dalam hati kita? Mungkinkan kita mengurus kehidupan ini tanpa campur tangan hati kita?

  Bisa dan sangat mungkin. Kenapa? Hati adalah rumah Ilahi (qalbul mukmini baitullah). Hati orang beriman itu rumahnya Allah. Oleh sebab itu, rumah Allah harus bersih, bercahaya, bahkan mencahayai fikiran dan akal kita, mencahayai langkah kehidupan kita. Dunia dan seisinya ini cukup diurus oleh ikhtiar kita. Ikhtiar itu tempatnya ada dalam akal, fikiran, dan jasad kita.

  Jika ikhtiar masuk dalam hati, maka hati akan ternodai. Bahkan terkotori oleh kontaminasi konflik yang sangat menyesakkan jiwa.

  Oleh karenanya, setiap hari manusia harus bisa memisahkan mana yang harus diurus di dalam kamar hati, mana yang harus diurai oleh bilik akal, dan mana yang harus diperhitungkan oleh pikiran kita dan alat apa yang bisa mengendalikan nafsu kita.

  Coba Anda renungkan dengan membuka jendela masa lalu Anda. Kenapa stres itu muncul dan kenapa ketakutan itu muncul justru disebabkan oleh hantu ketakutan itu sendiri? Coba Anda ingat, sejak bangun tidur hingga saat Anda membaca tulisan ini sudah berapakali Anda berterima kasih kepada Allah? Kenapa Anda merasa kurang mendapat nikmat Allah, sedangkan ketika Allah melimpahkan nikmat-Nya justru Anda enggan menjaga nikmat itu?

  Nah, anatomi stres ini perlu kita bedah. Bukan melalui uraian akademis, tetapi melalui amaliyah dan praktik psikologis kita sehari-hari dalam menyikapi suatu problem. Dan ketika problem itu masuk dalam hati kita, sesungguhnya di sanalah munculnya hawa nafsu kita. Persinggungan antara wilayah hati dengan wilayah duniawi adalah awal tumbuhnya nafsu kita. Baik nafsu yang memunculkan ketamakan dan harapan atau pun nafsu suka cita yang melebihi kewajaran. Bahkan nafsu marah yang membakar dada kita. Nah!

Baca Selengkapnya......

Saturday, February 14, 2009

- KESEMPATAN

  Ada 3 tipe manusia melihat sebuah kesempatan. Dalam pepatah mandarin dikatakan:

  1. Orang yang lemah, menunggu kesempatan.
  2. Orang yang kuat, menciptakan kesempatan.
  3. Orang yang cerdik/bijak, memanfaatkan kesempatan.

Bagi orang lemah, bila kesempatan belum datang, dia akan menunggu dan menunggu sampai kesempatan itu datang, Bila ditunggu kesempatan belum juga datang, dia berpikir, yah…. Ini memang nasibku.

  Tipe kedua : bagi orang kuat, bila kesempatan belum datang, dia akan mengunakan berbagai macam cara, kreatifitas, koneksitas, dan segenap kemampuannya untuk menciptakan kesempatan itu datang padanya.

  Tipe ketiga : bagi orang cerdik/bijak, dia akan memanfaatkan kesempatan karena dia menyadari kesempatan adalah sesuatu yang berharga, belum tentu kesempatan itu datang untuk kedua kali. Memang pada kondisi tertentu, kadang munculnya kesempatan itu butuh pematangan waktu. Kita perlu menunggu sesaat, tetapi bukan dengan sikap yang pasif, sebaliknya, kita menunggu kesempatan itu dengan sikap waspada, proaktif dan penuh kesiapan.

  Seperti sikap seekor kucing yang akan menangkap tikus, kucing bisa dengan sabar, waspada, penuh kesiapan menunggu kesempatan tikus keluar dari lubang persembunyiannya. Begitu tikus keluar, kucing akan segera menyergap mangsanya. Keberhasilan kucing melumpuhkan tikus adalah serangkaian proses melakukan 3 hal yang saya bicarakan di atas, yaitu kemampuan menunggu kesempatan bukan secara pasif tetapi proaktif, penuh kesiapan.

  Begitu kesempatan tercipta langsung dimanfaatkan. Kesempatan merupakan salah satu factor yang harus dimiliki bagi siapa saja yang mau mengembangkan diri. Tanpa kesempatan yang tersedia, tidak mungkin kita bisa sukses. Oleh sebab itu bila kesempatan belum datang, kita harus berusaha menciptakannya, bahkan di dalam kesulitan pun, jika kita punya keuletan untuk berusaha terus menerus, suatu hari, kesempatan pasti akan datang. Persis seperti yang dikatakan oleh ilmuwan besar Albert Enstein:

  IN THE MIDDLE OF DIFFICULLTY LIES OPPORTUNITIES. Di dalam setiap kesulitan terdapat kesempatan. Pastikan dengan segenap kreatifitas, kerja keras, keuletan dan niat baik kita ciptakan kesempatan, manfaatkan kesempatan untuk mengembangkan diri semaksimal mungkin dan memperoleh kehidupan yang lebih baik, lebih sukses, dan lebih berarti !!!

quran sains

Baca Selengkapnya......

- TIGA ORANG DATUK ASAL MINANGKABAU PENYEBAR ISLAM DI TANAH BUGIS

Walaupun banyak yang sudah tahu, bahwasanya ada tiga orang datuk yang berasal dari Minangkabau itu - paling tidak berasal dari tanah Sumatera, yang mengislamkan wilayah-wilayah kerajaan di Sulawesi Selatan pada abad 16, yaitu :

1. Khatib Tunggal Datuk Makmur, atau populer di kalangan masyarakat Sulsel dengan nama Datuk Ribandang.
2. Khatib Sulung Datuk Sulaiman
dikenal Datuk Patimang.
3. Syekh Nurdin Ariyani dikenal dengan nama Datuk RiTiro.

Akan tetapi  penulis yakin masih banyak generasi muda minang yang belum mendapat informasi seputar jasa tiga orang datuk dari Minangkabau, yang menyebarkan agama islam di Sulawesi Selatan.

Dari berbagai sumber, penulis berhasrat menyampaikan perihal tiga orang datuk  yang disebut-sebut dari Minangkabau serta sebelumnya  penulis tertegun didalam hati – adakah tiga orang datuk ini – masuk dalam bagian sejarah di Minangkabau ?

Apa dan bagaimana perjuangan dan kiprah mereka dalam penyebaran agama islam di Sulawesi Selatan ini ? Berikut ini saya mencoba menyimpulkan sebagai berikut :

1.      Wilayah Tallo dan Goa :

Sekitar awal abad ka 17, ketiga orang datuk ini mengislamkan Raja Tallo, pada  hari Jumat 14 Jumadil Awal atau 22 September 1605, kemudian menyusul Raja Gowa XIV, yang akhirnya bernama Sultan Alauddin."

Kerajaan Tallo dan kerajaan Gowa merupakan kerajaan kembar yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Bahkan Mangkubumi (Perdana Menteri) kerajaan Gowa adalah juga Raja Tallo.

Raja Tallo XV, Malingkaan Daeng Manynyonri merupakan orang pertama di Sulsel yang memeluk agama Islam melalui seorang ulama dari pantai Barat Sumatera, Khatib Tunggal Datuk Makmur, atau populer di kalangan masyarakat Sulsel dengan nama Datuk Ribandang.

Oleh karena itu pulalah kerajaan Tallo sering disebut-sebut atau diistilahkan sebagai pintu pertama Islam di daerah ini atau dalam bahasa Makassar '' Timunganga Ri Tallo''.

Kemudian Raja Gowa secara resmi mengumumkan bahwa agama resmi kerajaan Gowa dan seluruh daerah bawahannya adalah agama Islam. Sebelum masuknya agama Islam di Sulsel, masyarakat masih menganut kepercayaan animisme.
Dalam riwayat dikisahkan bahwa awalnya Datuk Ribandang sendiri bersama kawannya dilihat oleh rakyat kerajaan Tallo sedang melakukan shalat Asyar di tepi pantai Tallo. Karena baru pertama kalinya itu rakyat melihat orang shalat, mereka spontan beramai-ramai menuju istana kerajaan Tallo untuk menyampaikan kepada Raja tentang apa yang mereka saksikan.

Raja Tallo kemudian diiringi rakyat dan pengawal kerajaan menuju tempat Datuk Ribandang dan kawan-kawannya melakukan shalat itu. Begitu melihat Datuk Ribandang sedang shalat, Raja Tallo dan rakyatnya secara serempak berteriak-teriak menyebutkan ''Makkasaraki nabi sallalahu'' artinya berwujud nyata nabi sallallahu.

Inilah salah satu versi tentang penamaan Makassar, itu berasal dari ucapan 'Makkasaraki' tersebut yang berarti kasar/nyata. Ada beberapa versi tentang asal mula dinamakannya Makassar selain versi tersebut.

Datuk Ribandang sendiri menetap di Makassar dan menyebarkan agama Islam di Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan wafat di Tallo. Sementara itu dua temannya, masing-masing Datuk Patimang yang nama aslinya Khatib Sulung Datuk Sulaiman, menyebarkan agama Islam di daerah Suppa, Soppeng, Wajo dan Luwu, dan wafat dan dikebumikan di Luwu.
Sedang Datuk RiTiro atau nama aslinya Syekh Nurdin Ariyani berkarya di sejumlah tempat meliputi Bantaeng, Tanete, Bulukumba. Dia wafat dan di makamkan di Tiro atau Bontotiro sekarang.

      Dengan kedatangan kolonial Belanda , seluruh benteng-benteng pertahanan kerajaan Gowa di hancurkan kecuali benteng Somba Opu yang diperuntukkan bagi kerajaan Gowa dan benteng Ujungpandang (Fort Rotterdam) untuk pemerintahan kolonial Belanda, benteng pertahanan kerajaan Tallo juga dihancurkan. Penghancuran benteng-benteng pertahanan kerajaan Gowa-Tallo itu sesuai perjanjian Bungaya, 18 Nopember 1667, yang merupakan pula tahun kemunduran kejayaan kerajaan Gowa-Tallo waktu itu.

2.   Makassar – Bulukumba – Luwu ;
Sentuhan ajaran agama islam yang dibawa oleh ulama besar dari Sumatera itu, juga terdapat di Bagian selatan Sulawesi Selatan yang lain, yaitu Kabupaten Bulukumba, yang bertumpu pada kekuatan lokal dan bernafaskan keagamaan". masing-masing dibawa oleh 3 orang Datuk ; bergelar Dato' Tiro (Bulukumba), Dato Ribandang (Makassar), dan Dato Patimang (Luwu),

3.      Sementara dalam itu sejarah Islam Kabupaten Luwu dan Palopo, menerangkan bahwa kira-kira pada akhir abad XV M dan kira-kira pada tahun 1013 H, Agama Islam masuk  didaerah Luwu yang dibawah oleh seorang alim Ulama yang arief ketatanegaraannya yaitu Datuk Sulaeman asal Minangkabau. Pada waktu itu Luwu diperintah oleh seorang Raja yang bernama Etenrieawe. Pada waktu Datuk Sulaeman mengembangkan ajaran agama Islam di wilayah ini, hampir seluruh masyarakat Luwu menerima agama itu.

Ketika itu kerajaan dibawah naungan Pemerintahan Raja Patiarase yang diberi gelar dengan Sultan Abdullah ( saudara kandungnya bernama Patiaraja dengan gelar Somba Opu)  sebagai pengganti dari Raja Etenriawe, kemudian Datuk tersebut dalam mengembangkan Misi Islam,  dibantu oleh dua ulama ahli fiqih yaitu Datuk Ribandang yang wafat di Gowa, dan Datuk Tiro yang wafat di Kajang Bulukumba .dan Datuk Sulaeman wafat di Pattimang Kecamatan Malangke, _+ 60 Km jurusan utara Kota Palopo melalui laut .

Datuk Sulaeman yang berasal dari Minangkabau ini kemudian dikenal dengan nama Datuk Patimang, karena beliau wafat dan dimakamkan di Pattiman.

4.      Tak kurang ada sebuah hikayat yang mengkisahkan bahwa Al Maulana Khatib Bungsu (Dato Tiro) beserta kedua sahabatnya (Datuk Patimang dan Datuk Ribandang) mendarat di pelabuhan Para-para. Setibanya di darat, ia langsung menuju perkampungan terdekat untuk memberitahukan kedatangannya kepada kepala negeri. Namun dalam perjalanan menuju rumah kepala negeri,  Dato Tiro merasa haus, dan beliau pun bermaksud untuk mencari air minum namun disepanjang pantai tersebut tidak terdapat sumur yang berair tawar. Dato Tiro menghujamkan tongkatnya di salah satu batu di tepi pantai Limbua sambil mengucap kalimat syahadat "Asyhadu Ala Ilahaillallah wa Ashadu Anna Muhammadarrasulullah", anehnya setelah tongkatnya dicabut, keluarlah air yang memancar dari lubang di bibir batu tersebut. Pancaran air sangat besar dan tidak henti-hentinya mengalir sehingga akhirnya membentuk sebuah genangan air. Penduduk dan para pelaut kemudian memanfaatkan mata air ini untuk keperluan hidup sehari-hari. Hingga saat ini mata air tersebut tidak pernah kering dan ramai dikunjungi masyarakat.

5.         Penulis belum menemukan Informasi di Ranah Minang mengenai siapakah gerangan jati diri tiga orang datuk ini yang diduga berasal dari Miangkabau.?  Apakah ia berasal dari didikan dan santri dari Ranah Minang ?.

Ternyata  Dari Sumber ; http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Islam/Giri.htm,  diperoleh informasi bahwa para santri pesantren Sunan Giri - selain - dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih di Pulau Jawa dan ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara, ternyata para santri Sunan Giri ini - juga menyebarkan agama  Islam hingga  Sulawesi Selatan. Mereka itu adalah Datuk Ribandang dan dua sahabatnya. Mereka adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.

6.         Sesungguhnya sebelum kedatangan tiga orang datuk ke tanah Bugis ini, telah ada beberapa penganjur Islam selain tiga orang datuk dari minangkabau, yaitu Sayyid Jamaluddin al-husayni al akbari yang merupakan kakek dari Walisongo. Ini berarti Islam sudah datang ke tanah Bugis, pada saat kedatangan para datuk' (Datuk riBandang, Datuk riTiro dan Datuk riPatimang).

Namun diterimanya agama Islam di kerajaan-kerajaan Bugis Makassar pada tahun 1598 (Gowa dan Luwu),  menyusul Ajatappareng (Sidenreng, Rappang, Sawitto) pada tahun 1605, Soppeng (1607), Wajo (1609), dan Bone (1611) adalah berkat usaha ketiga para Datuk riBandang ini.

Ia mengislamkan Karaeng Matoaya yang merupakan Mangkubumi kerajaan Makassar. Datuk Patimang (Datuk Sulaiman) mengislamkan Daeng Parabbung Datu Luwu dan Datuk riTiro memilih berdomisili di Bulukumba yang merupakan daerah perbatasan Bone dan Gowa untuk syiar Islam. Islamnya Gowa adalah simbolitas kekuatan militer dan Luwu adalah pusat mitos Bugis Makassar.

Dengan pengislaman dua kerajaan besar ini maka tidak ada alasan untuk menolak Islam bagi rakyatnya . Islamisasi secara struktur adalah menjadikan syariat sebagai dasar negara.  Sebelumnya telah ada ADE', RAPANG, WARI, BICARA. Diterimanya Islam sebagai agama resmi kerajaan menjadikan syariat sebagai landasan kelima yaitu SARA' akibatnya adalah dibuatkan jabatan struktural kerajaan yang baru yaitu QADHI, BILAL, KATTE', DOJA sebagai perangkat syiar Islam kerakyat.

7.      Pertanyaan kita sekarang. Apa yang menyebabkan tiga orang datuk ini berkunjung ke kerajaan-kerajaan di Sulsel itu untuk menyebarkan agama islam ?

a.   Dugaan pertama karena masyarakat di wilayah itu masih menganut animisme sebagai mana yang telah diuraikan pada butir 1 diatas, sehingga raja Tallo dan Goa adalah raja yang pertama kali menganut agama islam.

b.   Adanya persaingan antara Kristian dan Islam semakin sengit di Sulawesi Selatan pada awal  abad ke 16 itu.

Persaingan diantara Islam dan Kristian di Makassar disebabkan oleh raja Makassar sendiri yang tidak dapat memilih antara dua agama ini. Mereka  meminta Abdul Makmur (Dato' ri Bandang) datang melawat ke Makassar bersama dua orang temannya iaitu Sulaiman (Dato' ri Pa'timang) dan Abdul Jawad (Dato' ri Tiro). Kemudiannya Islam tersebar di seluruh Sulawesi Selatan atas jasa ketiga-tiga pendakwah ini.

Dunia Bugis Pada Abad Ke 16 telah di ramaikan oleh berbagai komoditi perdagangan. Ekspor Sulawesi Selatan ketika itu ialah padi,  yang diekspor ke Melaka, yang sudah dikuasai Portugal. Pada tahun 1607, Sultan Johor yang bermusuhan dengan Portugis mencoba menghambat ekspor ini. Produk-produk pertanian lain adalah kelapa, buah-buahan dan sayur-sayuran. Jenis peternakan adalah kerbau, kambing, ayam dan itik. Sedangkan hasil-hasil alam yang dibawa dari kawasan Sulawesi dan sekitar nya yang diekspor antara lain ialah kayu cendana (dari Kaili dan Palu),kayu sapan (dari Sumba), kayu aguila, resin, dll

Tidak ketinggalan bahan tekstil yang dibuat di Sulawesi Selatan yang  cukup popular pada abad ke 16 itu. Pada tahun 1544 -  kain putih – dikenal dengan sebutan "kain katun ", dijual pada harga 200 rial. Hal ini  membuktikan bahwa Sulawesi Selatan sudah pun memasuki sistem perdagangan antar bangsa dan menggunakan mata uang asing (Portugis). Rial menjadi salah satu mata uang utama, dimana sebelumnya sistem penukaran uang belum dilakukan dengan cara ini.

Tahukah Anda ?, pada masa itu sebelum mengenal sistem pertukaran uang, kerbau adalah satuan penukaran dan mungkin dijadikan sebagai petunjuk utama.

Yang menyedihkan kala itu, terdapat juga komoditi ekspor baru yaitu budak. Kebanyakan para budak itu adalah para tawanan perang yang yang entah siapa saja,  meliputi  kanak-kanak dan wanita yang berasal dari ditawan Bugis.

Harga seorang hamba boleh mencapai 1000 rial..!! yang ketika itu merupakan suatu tawaran yang cukup menarik bagi Portugis. Perdagangan budak semula mendapat tempat pada abad 15 itu, disebabkan oleh permintaan dari luar. Sejalan dengan dengan dihapuskannya perdagangan budak didunia, bangsa asing yang masuk kewilayah Sulawesi mengalihkan perhatiannya pada Emas. Pertambangan  Emas berada di pergunungan Toraja dan Luwu'. Selain itu  Mineral-mineral lain yang diekspor ialah besi (dari Luwu' dan Banggai), kuprum dan plumbum.

Apa jadinya wilayah Sulawesi pada kondisi dikuasai oleh pengaruh asing - Portugis, Spanyol, jika sekiranya tidak ada tiga orang datuk yang berasal dari Minangkabau di tanah Sumatera berkunjung ke Sulawesi Selatan pada akhir abad 16 itu. Bangsa Portugis dan Spanyol adalah bangsa yang sangat berkepentingan untuk meraup hasil bumi di pulau Celebes dan  Maluku.

Langkah lebih lanjut adalah adakah intitusi di Ranah Minang yang melakukan penelitian tentang kiprah Tiga Orang Datuk ini bagi penyebaran agama Islam. Pada empat abad sebelum sekarang,  mereka telah berjihad bagi agama islam yang merupakan fondasi dasar bagi ciri orang Minangkabau. Bagaimana sikap kita dalam memposisi tiga orang datuk ini dalam sejarah Minangkabau ?

Sumber :
1.    http://bulukumba.bappenas.go.id

2.    http://www.bulukumbakab.go.id/?id=67
3.   http://palopo.pta-makassarkota.go.id/
4.   http://www.selayaronline.com
5.    http://:www.gatra.com
6.  http://melayuonline.com

Baca Selengkapnya......

Saturday, January 31, 2009

- UNGKAPAN SEBATANG POHON APEL

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel .

Setiap hari. ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon,memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel.
Wajahnya tampak sedih.

“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi.” jawab anak lelaki itu.
“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”
Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.

Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi.

Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

“Ayo bermain-main denganku lagi.” kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu.”kata pohon apel.

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.

Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.

Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi.

Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

“Ayo bermain-main lagi denganku.” kata pohon apel.
“Aku sedih,” kata anak lelaki itu.
“Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah .”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

“Maaf anakku,” kata pohon apel itu.
“Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”
“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu.” Jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat.” Kata pohon apel.
“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu.” Jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini.” Kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang.” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat.
Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.,pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Pesan Moral:
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apapun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Baca Selengkapnya......

Wednesday, January 28, 2009

- KEKUATAN UANG

Kekuatan Uang

   Bagaimana uang bisa mengubah hidup seorang manusia, itu merupakan hal biasa. Begitu juga pemakaian uang untuk keperluan hidup lain nya bahkan suap-menyuap dengan tujuan tertentu, sudah bukan rahasia lagi. Berikut merupakan contoh nyata betapa selembar uang bisa mengubah pikiran orang dalam hitungan detik.

    Peristiwa ini diceritakan oleh mantan perdana menteri Inggris yang terkenal, Winston Churchill. Sore itu ia dijadwalkan menyampaikan pidatonya yang akan dipancarluaskan ke seluruh Inggris. Kebetulan sopir kementerian yang ditunggunya belum muncul, padahal acara siarannya tinggal sejam lagi. Karena tak ingin terlambat sampai di studio, orang nomor satu di Inggris itu segera lari ke pinggir jalan untuk mencegat taksi.

   Tak lama kemudian sebuah taksi lewat. Segera Churchill menyetopnya dan menyuruh sopir taksi ngebut secepatnya ke stasiun radio BBC yang terletak di West End, London.

  "Maaf Tuan," jawab si sopir taksi seraya menggelengkan kepalanya. "Sebaiknya, Bapak mencari taksi lain saja. "

  "Kenapa tidak mau," jawab sang perdana menteri dengan nada tinggi, lantaran kesal tidak boleh masuk ke dalam taksi.

  "Dalam situasi biasa sih, tidak ada masalah, Pak," jawab sopir dengan nada minta maaf. Ia tidak mau tahu keinginan calon penumpang yang tampak terburu-buru ini.

  "Ketahuilah, pada pukul 18.00, PM Winston Churchill akan pidato, dan sebagai warga negara yan g baik saya harus segera pulang ke rumah untuk mendengarkan pidatonya."

  Mendengar jawaban itu Churchill sangat terkejut bercampur bangga. Ternyata rakyat kecil Inggris amat menghargapi pemimpinnya. Tanpa sadar ia mengeluarkan uang selembar poundsterling dan memberikan kepada sang sopir.

  Sambil ekor matanya melirik angka di lembaran uang yang ditawarkan, dalam sekejap sang sopir amat bersemangat dan berkata, "Silakan masuk, Pak. saya akan antar anda ke manapun.  Persetan dengan Mr. Churchill." Tidak diceritakan lagi, bagaimana perasaan perdana menteri itu selama di perjalanan. (*/Djs)/intisari

Baca Selengkapnya......

Tuesday, January 27, 2009

- BELAJAR DARI KATAK

KISAH SANG KATAK
Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil yang menggelar lomba lari.....

Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah bukit yang tinggi dan curam !!!
Banyak penonton berkumpul bersama menyaksikan
perlombaan untuk memberi semangat para peserta..... dan peluit ditiup...

priiittt... perlombaan dimulai...!!!

Sejujurnya, tak satu pun penonton benar-benar percaya bahwa katak-katak
kecil akan bisa mencapai puncak bukit curam itu.

Penonton berteriak :

'Wow... jalannya terlalu suliiittt...!!! Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai
ke puncak bukit... percuma'

'Tidak ada kesempatan untuk berhasil... bukitnya terlalu curam...!!!'

Sepanjang perlombaan katak-katak kecil mulai berjatuhan... satu per satu...

dimulai dng yang kegemukan & tidak mempersiapkan diri...

ada yang kecapaian karena bermental LOSER...

ada yang berhenti karena TIDAK ADA MOTIVASI...

ada yang malah sibuk 'berakrobat'...

ada pula yang tidak waspada dan 'dimakan' musuh...

kecuali yang tetap semangat terus menaiki menara perlahan-lahan semakin
tinggi dan semakin tinggi...

Penonton kegirangan dan terus bersorak :
'Terlalu sulit... terlalu sulit... Tak seekor pun akan berhasil...!!!'

Maka lebih banyak lagi katak kecil kelelahan dan menyerah...


ada yang gdn kemasan alasan & excuse yg cantik...

ada yang lupa diri dan tidak konsentrasi...

banyak yang tidak mengakui & membela diri...


Penonton pun makin mabuk kesenangan :

'Betul apa kata kita... TIDAK MUNGKIN BISA... dan terlalu sulit...!!!'

Maka 'habis' sudah semangat mereka dan makin banyak yang jatuh...

yang berpotensi berhasil pun... ikut menyerah !!!

yang terparah seperti ini... see ya !!!

tapi ada SEEKOR katak yang terus melaju tidak menghiraukan sorakan penonton
hingga dia naik semakin tinggi dan tinggi...

nampak bersemangat dan pantang menyerah...

dia berlari dan melompat dng hati...

Akhirnya semua menyerah menaiki bukit kecuali SATU katak kecil ini yang dng
usaha keras menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai puncak...!!!


Penonton dan SEMUA katak kecil yang lain sangat penasaran ingin tahu...
'bagaimana dia bisa melakukannya ya...???'

Kemudian seorang penonton bertanya bagaimana cara katak yang berhasil
menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan...???

Sang katak ini diam TIDAK MENJAWAB...
hanya dua jempolnya diacungkan ke si penanya...

... TERNYATA katak yang juara itu TULI...!!!

MORAL CERITA :
Jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai
kecenderungan negatif atau pun pesimis... mereka
mengambil sebagian besar mimpi-mimpimu dan
menjauhkannya darimu.


Berlakulah TULI jika orang menganggapmu tidak bisa menggapai cita-citamu..!!!

Selalu berpikirlah... POSITIVE...!!!



Baca Selengkapnya......

Sunday, January 11, 2009

- YANG MENUNAIKAN IBADAH HAJI TAHUN 2008M / 1429H

Yang terpantau oleh penulis anak nagari Batu Palano yang naik haji tahun ini adalah :

  1. Hajjah Nurlela Basir  binti Rikin  alamat  Kramat Pulo Senen  (Jakarta Pusat )
  2. Hajjah  Ati binti Sikar  alamat  Kebayoran Lama  ( Jakarta Selatan )


Semoga Menjadi Haji yang Mabrur..Amin Ya Rabal Alamin.

Kami harapkan informasi lainnya kalau masih ada yg tidak terpantau oleh penulis kami tunggu beritanya untuk di beritakan

Baca Selengkapnya......

Wednesday, December 31, 2008

- RUSLI NAS DT PADO SAIH PUTRA BATU PALANO CALEG PPP DAERAH Tk I PILIHAN BUKITTINGGI,AGAM,PADANG PARIAMAN


Dapil Sumbar IV (Bukittinggi, Agam, Padangpariaman, Kota Pariaman)

Centang NO :
2. Ruslinas Dt. Pado Saih

Mohon doa restu dan dukungan dari segenap warga Batu Palano baik yang dikampung maupun yang dirantau.

Baca Selengkapnya......

- MEROKOK, SENGSARA DIBALIK "NIKMAT"


MEROKOK, SENGSARA DIBALIK "NIKMAT"

Seringkali kita mendengar sebagian orang, kerabat, saudara, atau bahkan kita sendiri, sulit menghentikan kebiasaan merokok.
Alasannya, merokok memberikan kenikmatan, bahkan manfaat tersendiri bagi 'penggemar'nya sehingga berat rasanya untuk ditinggalkan. Tapi, benarkah kenikmatan merokok membawa manfaat?

BERMULA SEBAGAI OBAT

Menurut sejarahnya, bahan dasar rokok yaitu tembakau, memang digunakan sebagai obat. Christoper Columbus, penjelajah dan penemu benua Amerika, dalam jurnalnya
mencatat bahwa tembakau pertama kali digunakan oleh penduduk asli Amerika Selatan untuk pengobatan.

(Cari, ada apa di tembakau?)

REKAYASA KIMIA

Soal manfaat 'positif ' rokok bagi para perokok ini juga diakui dokter spesialis paru-paru, Dr. Pradjna Paramita, Sp.P. Menurut dokter yang juga aktivis Yayasan Asma, Jakarta ini, memang banyak perokok yang merasakan peningkatan konsentrasi, mood, kemampuan belajar, mengurangi stress dan lelah, serta kemampuan memecahkan masalah saat mengisap sebatang rokok.

Namun nikotin, seperti halnya obat doping pada umumnya, sebenarnya juga zat kimia beracun, bahkan sangat beracun. Dosis 60 mg pada orang dewasa dapat mematikan karena menyebabkan kegagalan pernapasan. Tapi pada rokok masalah utamanya bukan nikotin, karena dosisnya sudah dibuat seaman mungkin untuk sekadar menciptakan efek ketagihan.

DR. Jeffrey S. Wigand, mantan Wakil Presiden Penelitian dan Pengembangan Brown & Williamson (B&W) Tobacco Corporation, AS, mengatakan, saat ini komposisi rokok bukan lagi sekadar campuran antara tembakau dan cengkih - cengkihnya malah sudah hilang sama sekali - melainkan ada semacam rekayasa kimia ammonia yang ditingkatkan keasamannya. Rekayasa ini membuat nikotin dalam tembakau jadi lebih cepat diserap oleh paru-paru, dan akhirnya akan berefek ke otak dan system syaraf.

Presiden lembaga swadaya masyarakat "Smoke-Free Kids" ini juga menemukan efek penambahan citarasa yang membahayakan paru-paru, yaitu unsur gliserol. Bahan yang terbuat dari lemak hewani/nabati (rasanya manis) dan dicampurkan pada tembakau sebagai pelembab, tapi bila dibakar, gliserol ternyata berubah unsur kimiawinya menjadi acrolein (zat asam yang amat tajam). Zat ini, menurut American Council on Science and Health, dapat menyebabkan peradangan paru-paru yang memicu kanker paru.

Tak heran bila data statistik WHO yang dipublikasikan tanggal 28 Mei 2002 menyebutkan bahwa aktivitas merokok telah membunuh 1 dari 10 orang dewasa di dunia tiap tahun, dan itu setara 4 juta kematian perokok. Bahkan jika trennya tak berubah, tahun 2030 nanti ajal akan menjemput 1 dari 6 perokok.
(sumber : Parents Guide)

Baca Selengkapnya......

Saturday, December 20, 2008

- Cerdas Saja Tidak Cukup

Cerdas Saja Tidak Cukup
       Dini dan Doni baru saja lulus dari universitas. Doni mengambil penelitian tentang jamur, sedang Dini memilih bakteri. Keduanya sama-sama bekerja keras sampai rela menginap berbulan-bulan di laboratorium mikrobiologi untuk menyelesaikan penelitiannyt Disamping pekerja keras, keduanya adalah mahasiswa pintar, bedanya prestasi akademis Dini jauh lebih menonjol dibanding Doni. Dini adalah mahasiswa dengan prestasi akademis yang sangat cemerlang, masih ditambah segudang prestasi non akademis yang tak kalah meyakinkan.
Predikat cum laude dan segepok piagam serta sertifikat yang dimilikinya membuat hampir semua teman sekampus yakin Dini akan melangkah pasti menuju dunia kerja, jauh meninggalkan Doni yang prestasinya tak begitu menonjol

      Namun kenyataan berbicara lain. Hanya dalam waktu kurang dari satu bulan Doni diterima di sebuah pabrik negatif film. Dini baru diterima di sebuah Bank 6 bulan kemudian. Bukan itu saja, Doni masih terus mendapat tawaran kerja dari beberapa perusahaan yang pernah dilamarnya. Hal yang tak pernah dialami Dini.

Mengapa?

      Dini memang lebih pintar dari Doni, tetapi Dini tak memiliki sebuah ketrampilan yang dimiliki Doni. Yaitu ketrampilan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang telah dimiliki!.

Dini sekedar cerdas saja, tapi tak tahu cara memanfaatkan kemampuan akademisnya yang luar biasa. Ibarat pelari cepat, Dini hanya mampu memenangkan kejuaraan lari bila diselenggarakan di stadion khusus untuk lari. Namun bila harus bertanding lari di alam bebas, Dini akan kalah. Meskipun larinya sangat cepat, Dini hanya tahu cara berlari di jalan raya. Sama sekali tak terpikirkan untuk lari melewati jalan pintas, menerobos gang-gang kecil, menyeberang sungai, melintasi sawah agar sampai ke tujuan lebih cepat. Akibatnya Dini dengan mudah dikalahkan oleh pelari-pelari yang kecepatannya jauh di bawah dirinya.

      Berbeda dengan Dini, Doni tak hanya mengandalkan informasi lowongan kerja yang ada di kampus dan di koran-koran. Doni dengan seksama mempelajari perusahaan-perusahaan yang dia perkirakan membutuhkan keahliannya. Pabrik negatif film yang ngeri melihat serangan jamur pada gulungan negatif filmnya; pabrik kertas yang kebingungan saat gulungan kertasnya putus-putus karena ditumbuhi jamur; produsen gandum yang ingin gudangnya bebas jamur; produsen makanan yang ingin makanannya bebas bakteri dan jamur; sebuah museum lukisan di Singapura yang ingin melindungi koleksinya dari serangan jamur; bahkan industri petrokimia yang sangat antusias ingin merekrut Doni setelah dikirimi presentasi tentang pengolahan limbah menggunakan mikrobia yang memakan biaya murah dan prosesnya lebih cepat dibanding cara konvensional.

     Doni mampu mengoptimalkan penerapan keahlian yang dimilikinya sehingga mendapat respon positif dari banyak perusahaan. Ketrampilan menggunakan kecerdasan adalah kuncinya. Cerdas saja tidak cukup, harus dilengkapi juga dengan usaha memperluas wawasan dan melatih kemampuan melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang agar kemampuan akademis dapat diterapkan di dunia nyata (c-45 bandung)

Baca Selengkapnya......

Wednesday, December 17, 2008

- PERBEDAAN PERSEPSI

PERBEDAAN PERSEPSI
Ada seorang ayah yang menjelang ajalnya di hadapan sang Istri berpesan DUA hal kepada 2 anak laki-lakinya

- Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yg berhutang kepadamu.
- Kedua : Jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin

Pada suatu hari sang Ibu menanyakan hal itu kepada mereka

Jawab anak yang bungsu :
"Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih".

"Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak".

Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang Ibu pun bertanya hal yang sama

Jawab anak sulung :
"Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal
tidak susut".

"Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam.
Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup."

"Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama".

MORAL CERITA :
Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan presepsi yang berbeda. Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita... pilihan ada di tangan anda.

Baca Selengkapnya......

Tuesday, December 9, 2008

Monday, December 8, 2008

- "BEAUTIFUL MINANG" TUJUAN WISATA


Indonesia begitu besar, penduduknya 30 kali Austria ataupun Swiss . Turis yang mengunjungi Austria 19 juta orang per tahun. 2,5 kali penduduknya, mereka membelanjakan 14 milyard

dollar di sana. Kalau mau dianalogikan, maka ranah Minanglah yang mampu menandingi keindahan dan daya tarik turis dari kedua negara tersebut. Maka tidak mustahil turis yang masuk ranah Minang juga 2,5 kali jmlah penduduk daerah ini atau 10 juta orang per tahun. Maka, turisme saja, bila berandai-andai, akan mampu menaikkan pendapatan per kapita penduduk ranah Minang sebesar 2000 dollar per tahun.

Ketakutan penduduk daerah akan rusaknya budaya oleh kedatangan turis-turis tidaklah beralasan. Pengaruh perusakan dari siaran televisi sangat jauh lebih besar. Turis-turis tidak masuk ke kawasan penduduk. Dengan waktu tinggal hanya beberapa hari, fokus kunjungan mereka lebih ke objek wisata alam, wisata peninggalan sejarah dan wisata pertunjukan kesenian dan budaya. Turis-turispun tidak berkeberatan bila diminta masuk ke ranah Minang dengan pakaian sopan. Mereka cukup dewasa untuk memahami adat setempat.

Mungkin tidak perlu dibicarakan secara rinci apa yang harus dilakukan untuk menyiapkan ranah Minang jadi daerah wisata internasional karena semuanya sudah ada panduan atau
'teori'nya, banyak textbook tentang itu, banyak konsultan yang mampu memberikan arahan.

Yang ingin disampaikan dalam saran pendek ini adalah bagaimana promosinya agar dunia mengenal dan tertarik mengunjungi ranah Minang. Kita sering melihat iklan wisata di CNN seperti 'Truly Malaysia' , demikian juga iklan-iklan gencar lain mengenai Thailand, Egypt dan lain-lain.
Mengingat begitu luasnya Indonesia, maka iklan 'visit Indonesia' jadinya sangat umum. Karena itu tidak kalah pentingnya juga secara khusus mengkampanyekan 'Minang beautiful' atau 'Minang Wow' atau 'lovely Minang' atau slogan lain yang lebih mengambil perhatian. Ciptakan suatu citra unik 'Minang' seperti halnya 'Bali'

Dengan semangat otonomi daerah maka republik ini dengan senang hati mempersilahkan daerah untuk mencari kiat-kiat untuk meningkatkan kemakmurannya, termasuk promosi.

Promosi ini dilakukan secara internasional baik media cetak dan elektronik seperti CNN, BBC, CNBC dan lain-lain yang cakupannya luas. Pengenalan 'Minang' boleh identik dengan
pengenalan Indonesia, tapi bilamana Indonesia yang sangat luas ini, mengalami gangguan di satu daerahnya, maka 'Minang' tidak akan ikut terpengaruh besar. Turis lebih mengenal 'Minang' sebagai Minang dan hanya ingin kepastian bahwa 'Minang' masih tetap aman dan layak kunjung.

Untuk itu tentu diperlukan dana yang besar. Agar pemerintah Sumbar tidak perlu mengeluarkan dana jalan keluar yang dapat dicoba adalah bekerjasama dengan konsultan internasional yang kuat. Mereka dijanjikan keuntungan berupa royalty yang diambilkan dari peningkatan pajak daerah yang berasal dari turisme selama beberapa waktu sampai modal mereka kembali dengan keuntungan yang layak.

Malaysia, dengan waktu cepat mampu menggaet jutaan turis dengan kampanye 'Truly Asia' nya. Makan Insya Allah demikian juga dengan ranah Minang dengan kampanye " Lovely Minang' atau 'Beautiful Minang' nya.

Tentu perlu dicatat bahwa ranah Minang sekaligus juga membenahi diri dengan segala perangkat, baik manusia, keamanan, sistem dan fasilitas, yang mampu menerima turis mancanegara secara berkualitas prima internasional.

Maizar Rahman
Penulis adalah Ketua Dewan Gubernur OPEC(Putra Nagari Batu Palano)

Baca Selengkapnya......

- Sastrawan Minang Maju Karena Watak "Pemberontak"

JAKARTA, SABTU -- Peta sastra Indonesia dari dulu dikuasai orang Minang, karena ada yang membedakannya dengan etnik lain di Indonesia, yaitu watak "pemberontak" dan berpikir merdeka. Begitu juga tokoh-tokoh intelektual asal Minang, mereka memiliki watak yang kukuh dan terang-terangan mengatakan tak setuju dengan penguasa.

Sastrawan dan Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat Dr Harris Effendi Thahar mengemukakan hal itu pada seminar Menumbuhkembangkan Bakat dan Kemauan Menulis Karya Sastra di Minangkabau, dalam rangkaian Pameran Buku Nasional, di Jakarta Convention Centre, Sabtu (15/11).

"Pada masa awal perkembangan sastra Indonesia modern, penulis-penulis sastra terkemuka, tanpa menafikan kehadiran penulis-penulis dari etnis lain-- adalah putra-putra Minangkabau, seperti Sutan Takdir Alisjabana, Hamka, Asrul Sani, dan Chairil Anwar," katanya

Harris menjelaskan, menurut sejarah sastra Indonesia permulaan sastra modern Indonesia ditandai oleh terbitnya roman Sitti Nurbaja karya Marah Rusli tahun 1922 oleh penerbit Balai Pustaka. Roman populer Sitti Nurbaja itu ditulus oleh sastrawan asal Minangkabau. Begitu juga roman Salah Asuhan yang ditulis Abdul Muis, juga orang Minangkabau.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sejarah tradisi sastra Indonesia didominasi oleh sastrawan asal Minangkabau. Keberadaan suku bangsa Minangkabau di tengah-tengah suku-suku bangsa lain di Nusantara secara kuantitatif hanyalah etnis yang kecil saja.

Namun, secara kualitatif merupakan etnis "besar" tersebab perannya yang besar dalam proses pembentukan republik ini. "Kebesaran nama tokoh-tokoh politik masa lalu sebenarnya bersinergi dengan keharuman nama tokoh-tokoh sastrawan pada masa itu. Demikian juga halnya dengan tokoh-tokoh pembaharu pemikiran Islam telah membuat citra orang Minangkabau begitu maju di antara etnis lain," papar Harris yang terkenal dengan cerpennya Si Padang.

Citra itu, lanjut Harris, secara positif menyiratkan bahwa budaya Minang yang egaliter membuat masyarakatnya berani bicara dan berpikir merdeka. Dalam masyarakat egaliter, semua orang Minang sama besar, sama kecil, dan sama-sama bebas (berbicara) berpendapat. Semua orang merasa besar tercermin dari gelar-gelar adat yang dimiliki oleh setiap keluarga dan suku. Tak ada gelar yang berkonotasi "rendah", semua terkesan "tinggi".

Semua orang Minang merasa bangsawan, karena di Ranah Minang ketek dibari namo, gadang dibari gala (kecil diberi nama, besar diberi gelar). Menurut Harris, watak pemberontak atau watak penerabas, kadang dianggap orang lain sebagai melawan arus. Padahal, sebenarnya antikemapanan, inovatif, kreatif, dan kukuh dengan pendirian yang berpegang pada filosofi Minangkabau, "alam terkembang jadi guru".

Kasus-kasus yang dialami oleh tokoh-tokoh kelahiran Minang kita di masa lalu seperti Tan Malaka, Hatta, Hamka, Sjahrir, dan Natsir untuk sekadar menyebut beberapa nama, adalah cermin kekukuhan watak kaum intelektual Minang.

"Tan Malaka terang-terangan mengatakan bahwa dirinya tidak sependapat dengan Soekarno. Hatta konsekuen dengan prinsip negara demokrasi, oleh karena itu ia tidak sudi menjadi wakil presiden terlalu lama tanpa ada ketidakpastian pelaksanaan pemilihan umum.

Hamka dipenjarakan Soekarno dan terang-terangan pula tidak sependapat dengan Soeharto. Demikian juga dengan Sjahrir, tidak tunduk dengan sikap otoriter Soekarno dan menerima risiko disingkirkan. Dan, Natsir yang baru-baru ini diakui kepahlawanannya karena sampai akhir hayatnya tidak sependapat dengan Soeharto.

"Semua tokoh yang disebut itu sekaligus juga merupakan penulis-penulis andal," jelas Harris. Watak "pemberontak" dan berpikir merdeka di kalangan sastrawan asal Minang juga dapat dilihat dari karya-karyanya.

Cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis menggambarkan betapa AA Navis yang dikenal sebagai "raja cemeeh" itu gerah melihat kejunuban pemahaman sebagian masyarakat terhadap agama. Demikian juga halnya Wisran Hadi yang mempertanyakan kembali kebenaran sejarah perjuangan Imam Bonjol melalui karya dramanya Tuanku Imam Bonjol yang mendapat protes keras dari pemerintah daerah dan masyarakat Sumatera Barat di tahun 1995.

Pemberontakan sastrawan-sastrawan terdahulu seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Chairil Anwar, sampai Taufiq Ismail, Hamid Jabbar, Darman Moenir dan Gus ft Sakai yang hidup di abad XXI, terlihat dari karya-karya mereka.

"Iklim budaya egaliter dan antiprimordialisme masyarakat Minangkabau tidak dapat dikesampingkan dalam membentuk watak kepengarangan para sastrawannya. Artinya, tanpa dipupuk pun, ranah Minangkabau tetap melahirkan para penulis bermutu dan sastrawan yang membanggakan, dari zaman ke zaman," katanya.

Tampaknya, sumbangan budaya alam Minangkabau dan keislaman yang dinamis (bukan fanatik) terhadap kelahiran penulis-penulis sastra sejak orang Minang melek huruf, tidak bisa dipungkiri. Akan tetapi bukan berarti sastrawan-sastrawan Indonesia kelahiran Minangkabau sukses tersebab darah etnis, melainkan karena iklim budaya dan iklim keislaman yang terpatri ke dalam ungkapan: "adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah

Refleksi: Mujur mereka sekalipun berwatak pemberontak tidak dicap separatis seperti di tempat lain di bahagian Timur Kalau sudah dicap separatis berarti pintu penjara sudah terbuka menunggu penghuni baru.

Dikutip dari:http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/16/00224852/Sastrawan.Minang.Maju.Karena.Watak.Pemberontak

Baca Selengkapnya......

- Sejarah Terbentuk Nagari Di Minangkabau

Tambo dan Silsilah Adat Minangkabau
Undang-Undang Tariak Baleh

        Manuruik warih nan bajawek nan takarang dalan tarambo samaso niniak Suri Dirajo, undang simumbang jatuah, duo jo si lamo-lamo lah diluluahkan katanah lakang, tigo jo jo sigamak-gamak lah dihanyuikan kaaia hilia. Sampai kali dikali urek tunggang, dibucuik aka nan manjala, dibongka tunggua nan dibumi, habih bakeh sarato jajak, hilang didalam pamakaian, lipua dihati masyarakat, maso baraliah lah disitu.


       Lah lanyap undang-undang nan tigo, timbua ganti tukarannyo, undang-undang tarimo tariak baleh, kok palu babaleh palu, nan tikam babaleh jo tikam, hutang ameh baia jo ameh, hutang padi baia jo padi, hutang kato baia jo kato. Dari zaman Suri Dirajo babilang maso kamudian sampai ka Datuak Seri Maharajo nan Banego-nego tariak baleh taruih balaku.

Adopun Datuak Seri Maharajo nan banego-nego junjuangan Puti Indajaliah anaknyo baduo bagai balam, sikua jantan sikua batino, nan tuo Sutan Maharajo Basa nan ketek Puti Jamilan. Anak nan sadang ketek-ketek. Wafatlah Datuak Seri Maharajo Dirajo nan Banego-nego mangko tinggalah Puti Indahjaliah sarato anak duo urang. Dek hilang biaso baganti, putuih biaso bauleh, mati Datuak Seri Maharajo Dirajo nan Banego-nego diganti jo Cati Bilang pandai. Adopun Puti Indahjaliah jo Cati Bilang Pandai maadokan anak laki-laki nan banamo si Sutan Balun, jadilah antaro Sutan Maharajo Basa sarato Puti Jamilan jo adiaknyo si Sutan Balun urang saibu balain bapak.

Dek Datuak Seri Maharajo nan Banego-nego undang-undang tariak baleh turun kaanak kanduangnyo nan banamo Sutan Maharajo Basa manggantikan bapaknyo, Sutan Maharajo Basa lah mangaku biang tabuak, nan mangadin gantiang putuih, sesudah Datuak Seri Maharajo nan Banego-nego bapulang karahmahtullah. Sutan Maharajo Basa kokoh mamacik jo manjalankan undang-undang tariak baleh nan diwarisi baliau dari niniak sampai ka bapak. Dek lamo kalamoan nan Sutan Maharajo Basa duduak mamacik tampuak tangkai di Pariangan jo Padang Panjang, gadang lah pulo si Sutan Balun, aka panjang pikiran lanjuik, budi dalam bicaro haluih, manurun warih ayahnyo, nan banamo Cati Bilangpandai. Lorong di Cati Bilangpandai maso Datuak Seri Maharajo nan Banegonego duduak manjadi tampuak tangkai, mangaku banda sabuah, nan mahitam mamutiahkan, tampek batulak mangko bajalan, bakeh kurang minta tukuak, kok singkek minta diuleh, panambah aka jo budi, panukuak paham jo kiro-kiro dek Datuak Seri Maharajo nan Banego-nego. Kalau manuruik buni tambo, nan diri Cati Bilangpandai, asa nan dari jauah bana, dari bangso Sangsekerta. Urang subarang lauik gadang, pueh mambilang taluak rantau, aka cukuik ilimu banyak, pikiran mandaun aua, gudang ulemu jo bicaro. Lah gadang anak kanduangnyo nan banamo si Sutan Balun lalu ditunjuak diajari caro baraka baulemu sampai kapaham jo bicaro.


Dek pandai si Sutan Balun ulemu lah banyak nan dikanduang, tiliak nyato pahamnyo haluih, lah dibao duduak basidang didalam Hukum mahukum atau timbang manimbang didalam koto jo nagari. Dek lamo bakalamoan lah habih maso mudo matah umua manjalang tigo puluah antaro Sutan Maharajo Basa jo diri si Sutan Balun, dek tiliak pandang rang nagari, lah bak intan dengan podi, lah asiang kalabiahan, lain-lain kagadangan, intan cayo nan dalam, nan podi kilek nan labiah, ragu rang banyak kamamiliah.
Dek rakyat di Pariangan sarato jo Padang Panjang lah samo dianjuang tinggi, lah samo diamba gadang, nan sorang lah tampat takuik, nan sorang lah bakeh sangko, badanga kato kaduonyo. Kalau didalam dihalusi, jikok dihindang-hindang bana, tantang ditajam pamikiran,atau dibudi nan marangkak, balabiah yakin rang nagari, io kadiri si Sutan Balun. Sajak dizaman Datuak Suri Dirajo, sampai kamaso niniak Seri Maharajo nan Banegonego, urang lah batambah-tambah, koto lah batambah rami, korong kampuang lah batambah sampik, dicari tenggang jo bicaro, kok sampik patuik dipalapang, nan sasak luruih dipalaweh, alam leba dunia lah lapang, rimbo banyak nan kadirambah, tampek mambuek korong kampuang untuak kakoto jo nagari, hutang malambeh jo malamun, tingga malambang manaruko.

Tatkalo samaso itu tibo parentah dek nan kuaso, dari nan mamacik tampuak nagari, tampuak tangkai koto jo nagari, manyuruah mancari tanah nan elok, nan rancak tampek baladang, bakeh badubo jo batahun, kok bancah jadikan sawah, kok padang bakeh bakabun, Baseraklah urang nan banyaktu, dikaki gunuang Marapi, sabalah mandun jo salatan, sampai kakaki gunuang Sago, nan arah mantari kamambungo lah ditunggu didiami. Sajak mulai bataratak, sampai manjadi koto jo nagari, lah luak panduduak Pariangan sarato padang Panjang pindah katanah nan data. Sampai sakarang iko kini, nan tidak barubah-rubah banamo luak Tanah Data, dek lah kurang urang Pariangan luaknyo ka Tanah Data. Dek lamo kalamoan lah sasak pulo Tanah Data diulang pulo mamindahan, kaum nan banayak akambangan nan lah sunduik manyunduik, lah banyak anak pinaknyo, dibagi-bagi tak basibak, diagiah-agiah tak bacarai. Dicarikan pulo tampek pindahnyo, dilapeh jarah jo paninjau, caro mairik nan batali, ibarat jinjiang nan batangkai, mancari tanah nan subua, nan elok tampek baladang, bakeh badugo jo batahun sarato untuak korong kampuang kajadi koto jo nagari, Lah bajalan urang ampek kaum langkok jo alat pabakalan, sarato pakakeh kaparambah, pai malereng gunuang Marapi pai katimua dengan barat.

Dari mandaki alah malereng, sampai manurun kakakinyo, kabagian sabalah barat, alua mantari katacampuang lah banyak tampek nan elok, nan patuik ditunggui ditanami, Baiakpun lurah jo baluka, bancah barayia untuak sawah, baluka bakeh bataranak, nan lakuak kajadi tabek, alah lah tampak balako, tingga marambah ananami. Lah sampai urang ampek kaumkakaki barat gunuang Marapi situ tatumbuak pajalanan katapi lubuak jo sungai. Aia jania lubuaknyo dalan, kaateh hulu basimpang, kabaruah aia sabuah lah jadi satu ilirannyo, hilia malereng kaki bukik, babatu bakasiak banyak, babelok balingka-lingka. Lubuak banamo Lubuak Agam, mudiak hulunyo bacabang duo, sabuah banamo Sungai Janiah sabuah banamo Batang Tambuo, Nan mulai dari Lubuak Agam hilia lalu kamuaro lakek namonyo Batang Agam sampai sakarang iko kini nan tidak batuka batimbang, namo asa indak barubah, banamo Batang Agam juo. Lah salamat urang nan ampek kaum tibo diranah Lubuak Agam, datanglah kaum nan kaduo, manuruti kaum nan partamo. Lorong nan datang nan kaduo, dari luak Tanah Data, sabanyak ampek kaum pulo, sarato alat kalengkapan.

Salasai kaum nan kaduo, mangiriang kaum katigo, sabanyok ampek kaum pulo manuruik kaum nan dahulu. Panyudahi kaum nan kaampek sabanyak ampek kaum juo, samo manuju ka Lubuak Agam. Tantang parangkatan nan dahulu, iolah kaum nan partamo, masuak karanah Lubuak Agam dari Luak Tanah Data lah baseraknyo disitu, dikaki gunuang Marapi, mancari tanah hutan nan elok , bakeh babuek sawah jo ladang, tampek mandirikan korong kampuang. Disalingka Batang Tambuo, salilik aia sungai janiah, lapeh kakaki bukik nan tinggi, hampia kapinggang gunuang Marapi, bagian ka Timua jo Utaro, diuni dek angkatan nan partamo. Mako jadilah koto jo nagari Agam Biaro, Balai Gurah, sarato Lambah jo Panampuang, sampai ka Canduang jo Lasi, dari puhun lalu kaujuang. Lorong dikaum nan kaduo, mambuek koto jo nagari, sakaliliang kaki bukik nan tinggi, salingka ngarai nan dalam, ampek nagari saedaran. Iyolah Kurai jo anuhampu, Sianok, Koto gadang, urang nan ampek angkek juo, ampek koto nyo dirikan. Urang nan angkek katigo, lah malambeh jo malamun, manaruko sawah jo ladang, kapinggang gunuang Marapi, mahadok mantari katacampuang, sabalah ateh Banuhampu. Dibueklah nagari ampek pulo, iolah Sariak jo Sungai pua, Batu Tagak jo Batu Palano.

Urang angkek nan katigo, ampek juo sakali angkek, parangkatan nan datang panyudahi, sabanyak ampek kaum juo, baserak pulo nyo kasitu, iolah kakai gunuang Singgalang, mambuek nagari ampek pulo, iolah Guguak, Tabeksurojo, Balingka, Koto Pambatan. Baitu kato nan dijawek, uraian pituah guru, nan dikarang ditambo alam, didalam alam Minangkabau. Itu nan angkek pangabisan, ampekampek sakali angkek, banyaknyo ampek kali angkek, jadi katonyo anam baleh, urang Ampek Angkek kasamonyo, Tapi sakarang iko kini, nan lai bak rupo bak namo, hanyolah angkek nan partamo, nan lain tidak tasabuik, nan banamo Ampek Angkek, iyolah Agam Biaro, Balai Gurah, sarato Lambah jo Panampuangan, sampai ka Pasia Canduang jo Lasi, nan Tigo angkek lah tasisiah lah tingga sajo disajarah. Alah salasai Luhak Agam, lah dapek pulo tampek nan elok, dikaki gunuang Sago, bagian timua jo utaro, sampai kalereng Gunuang Bongsu, salilik Batang Lampasi, Salingka Batang Sinama, saedaran Batang Agam, tanah data ranahnyo laweh, banyak bancah kajadi sawah, utang malambang manaruko, tingga dek urang kamangakok. Pihak dininiak maso itu nan mamacik tampuak maso itu, disiapkan kaum nan kapindah, dibagi kaum nan banyak, nan lah kambang balabihan, lah sajuik sawah jo ladang, kaum banyak sawah lah sudah, tak dapek manukuak lai, itulah urang nan dibagi, diagiah-agiah tak bacarai. Sampai sakarang iko kini, itu nan disabuik urang, banamo panjang bakaratan, atau laweh basibiran. Rantangan banyak nan kapindah, dari Luhak Tanah Data kalereng utaro Gunuang sago. Adolah limo puluah kaum, cukuik jo alat pabakanyo, langkok jo tukang jo nan pandai, sarato jo dukun pandai ubek, samo barangkek kasamonyo, manuju lereng Gunuang Sago, manurun antaro Gunuang Marapi jo Gunuang Sago, batamu lurah dituruni, sampai katapi Batang Agam, Disubarang Batang Agam hari patang malampun tibo, samo barantilah disitu, urang nan limo puluah kaum. Mamun barisuak pagi hari, saat malangkah nan lah tibo, maso bajalan nan lah datang, bakumpualah urang nan limo puluah kaum, nak salangkahnyo bajalan, nak sabondong samo lalu, nak sasentak samo suruik, lah himpun urang nan banyak tu, sampai dihetong banyak kaum, hilanglah urang limo kaum. Kato satangah ahli adat, urang nan hilang duo kaum, satu Datuak Mureka Panjang Jangguik, kaduo Datuak Mureka Putia Gigi.

Nan Datuak Mureka Panjang Jangguik sarato rombongan jo kaumnyo tapasah ka Kampa kiri, nan Datuak Mureka Putiah Gigi tapasah ka Kampa kanan, Adopun dek urang nan bapandapek, hilang limo buah kaum, namo nan indak tatunjuakan, gala nan indak takatokan. Hanyo pandapekan balimo, limo koto dibueknyo, kasinan kaum tu bajalannyo, iyo ka Kuok jo Bangkinang, ka Salo jo Aia Tirih, limo jo ka Rumbio, tapi nan namo jo gala indak tatunjuak takatokan. Sabab karano nan bak kian, luak lah urang nan limo puluah kaum, sabanyak limo atau duo kaum, bacarai ditangah Padang Siantah, hilang nan balun tantu rimbo, kok hanyuik nan balun tantu sungai, lah lamo mangko katahuan, lah sudah nagari kasamonyo, lah sampai tampuah manampuah, lah samo jalang manjalang, situlah baru mako tahu. Itulah asa jo mulonyo, disabuik luak Limo Puluah sabab lah hilang sabagian, dalam nan limo puluah kaum. Sampai sakarang iko kini, tidaklah lipua dek hujan, nan tidak lakang dek paneh, manjadi namo nan usali, banamo luak nan tigo. Satu luak Tanah Data, luak (kurang) urang Pariangan Padang Panjang, pindah katanah nan data. Kaduo luak Lubuak Agam, luak (kurang) urang Pariangan Padang Panjang jo urang Tanah Data, pindahnyo ampek kali angkek karanah Lubuak Agam. Nan Bongsu luak Limopuluah, luak (kurang) urang Pariangan Padang Panjang, pindah kakaki Gunuang Sago sabanyak limo puluah kaum. Baitulah warih nan dijawek, dari niniak nan dahulu nan takarang ditarambo. Dimaso Sutan Maharajo Basa sarato jo Sutan Balun, luak nan tigo alah badiri, tariak baleh alah balaku. Hanyo lainnyo dari kini, iyolah warih katurunan, tidak pusako dari mamak, bukan babanso dari ibu, hanyo pusako dari bapak kok banso baitu pulo.


Catatan:
Tambo dan silsilah adat Minangkabau ini ditulis ulang menurut aslinya dari buku karangan, B. Datuak Nagari Basa. Terbitan CV. Eleonora, Payakumbuh

Diambil dari : http://minangmedia.com/index.php?module=subjects&func=printpage&pageid=1&scope=all

Baca Selengkapnya......

- Objek wisata Batu Palano


Kecamatan Sungai Puar Kabupaten Agam banyak menyimpan obyek wisata, khususnya objek wisata sejarah, wisata alam dan wisata religi. Namun, potensi itu belum tergarap maksimal karena belum adanya investor yang melirik kecamatan itu.

Camat Sungai Puar I Putu Venda kepada padangmedia.com mengaku, sebulan terakhir ia sibuk mengunjungi potensi-potensi alam yang bisa dijadikan objek wisata di kecamatan yang ia pimpin.

Dalam pantauannya, camat melihat besarnya potensi alam yang ada di Nagari Batu Palano, yang juga berada di kawasan Kecamatan Sungai Puar. Disebut Batu Palano, karena di daerah itu ada satu situs yang persis seperti pelana kuda(lihat gbr dibawah). Begitupun, di Tabek Aia Asin(kolam airnya terasa asin),satu2nya didunia air tabek(kolam) rasa nya asin seperti air laut, konon tabek(kolam) itu bisa menyembuhkan penyakit gatal-gatal. Ada juga perumahan Demang Belanda yang dibangun pada zaman penjajahan masih terawat baik.

Sementara di Nagari Sungai Pua, ada Batu Menangis, Air Terjun Badorai, Tabek Keramat. Disebut keramat, karena apabila kepala dilongokan ke dalam tabek itu konon air tabek akan menarik orang itu laksana magnet manarik besi. Begitu juga di Nagari Batagak, ada Batu Tagak serta banyak lagi potensi wisata yang belum terungkap dan butuh tangan-tangan pemerintah untuk melestarikannya.

“Sayang sekali, semua potensi itu belum mampu kami kembangkan,” katanya.

Setelah menyaksikan semua kondisi itu, camat Sungai Puar berjanji akan mengkoordinasikan pelestarian beberapa potensi alam untuk dijadikan obyek wisata. Dia berharap pihak-pihak berwenang dapat mengelola objek wisata tersebut untuk diekspose ke luar Agam.

Tanah Lapang tempat ADU KERBAU


BATU YANG BERBENTUK PELANA KUDA

Baca Selengkapnya......